Hari ini tepat 1 bulan lebih 4 hari aku melepaskan dia yang sudah pergi meninggalkan singgasananya, ya... Sang Ratu Pemilik Hati ini sudah pergi dan berlabuh di kerajaan lain. Aku tak permasalahkan kepergiannya, aku hanya merasa seperti manusia bodoh dan sempat berasumsi sejahat itukah cinta? Tapi bukankah cinta itu tak pernah salah? Jadi disini siapa/apa yang salah? Baru sekejap mata aku merasakan manisnya cinta...
Seperti biasa, hanya dengan beberapa batang Marlboro Ice Blast (kali ini), sebotol Red Wine dan lantunan lagu Jason Mraz - "Beautiful Mess" saja untuk malam minggu ini. *kemudian menyelipkan sebatang rokok*
Malam ini tak lebih tenang, mungkin karena terlintas akan masa lalu... Ya, Sang Ratu yang sudah pergi. Aku tak lagi menghujatnya, aku tak lagi menyalahkannya, aku tak lagi bersumpah serapah untuknya, aku tak lagi menangisi kepergiannya, kali ini aku kecewa. Luka ini masih menganga lebar namun membeku dalam ruang bersuhu dingin, bahkan lebih dingin daripada kulkas dirumah mamah.
Minggu lalu aku masih mengharapkan dia untuk kembali lagi namun ketika beberapa hari lalu dia menyapa lewat chat hanya untuk mengetahui kabarku saja bahkan aku enggan untuk menjawab atau memulai obrolan yang hangat seperti layaknya seorang teman yang sudah lama tak berkabar. Karena egoku? Bukan. Karena bagiku itu tak penting lagi. Ada sesuatu yang harus dibayar mahal, sayang... Trust. Kepercayaan merupakan hal utama dalam kehidupanku dan aku sangat menyadari bahwa orang terdekat kita berpeluang besar untuk menyakiti kita dan aku rasa waktu sudah menjawab.
Aku berhenti mencari jawaban dari kepergiannya, pada akhirnya. Aku berhenti menyimpan harapan tentang kedatangannya kemudian hari. Aku hanya "menelanjangi" diri sendiri kemudian melihat dengan seksama, yang aku lihat kali ini hanyalah kebohongan darinya dan aku membiarkan diriku dibohongi selama 1 tahun. Dia permainkan aku selama 1 tahun, lidah mampu berbohong bahkan untuk membalikkan kata-kata tapi hati sama sekali takkan bisa untuk dibohongi. Mungkin dia lupa hal itu.
Sehina itukah aku dimatamu, Ca?
Aku hancur apa kamu peduli?
Kenapa aku harus peduli ketika kamu kangen?
Bukannya sejak setahun yang lalu aku udah ga penting lagi?
Aku merasa diriku sangat bodoh bahkan sangat bodoh. Setelah kepergiannya bersama orang baru bahkan dia masih mencariku, masih sempat ucapkan sepatah kata rindu padaku, masih membelai lembut wajahku dan masih memberikan pelukan hangat untukku. Bodoh bukan? Membiarkan diri sendiri menjadi pilihan untuk seseorang yang diprioritaskan.
Mulai detik ini manusia bodoh ini tak lagi membukakan sela untuknya, rasanya sudah lebih dari cukup untuk segala rasa semu yang dia berikan. Aku sudah memulai lembar baru yang idealnya terisi dengan cerita bahkan tokoh yang baru, bukan dengan tokoh yang sama.
Aku pikir aku rapuh tanpanya tapi setelah kepergiannya minggu lalu ke Pontianak seakan rasa sakitnya pun menemani dia disana. Aku jauh lebih baik, bahkan ketika beberapa detik lalu melihat iphoneku bergetar dan mengeluarkan notifikasi di social media dari dia pun aku baik-baik saja. Aku menikmati peranku menjadi manusia bebas layaknya sang Butterfly yang terbang kemanapun dia suka. Entah kenapa aku sangat mengagumi sosok Butterfly. Itulah aku saat ini.
Aku pikir aku rapuh tanpanya tapi setelah kepergiannya minggu lalu ke Pontianak seakan rasa sakitnya pun menemani dia disana. Aku jauh lebih baik, bahkan ketika beberapa detik lalu melihat iphoneku bergetar dan mengeluarkan notifikasi di social media dari dia pun aku baik-baik saja. Aku menikmati peranku menjadi manusia bebas layaknya sang Butterfly yang terbang kemanapun dia suka. Entah kenapa aku sangat mengagumi sosok Butterfly. Itulah aku saat ini.