Sabtu, 15 November 2014

Sadar akan kebodohan sendiri itu baik

Hari ini tepat 1 bulan lebih 4 hari aku melepaskan dia yang sudah pergi meninggalkan singgasananya, ya... Sang Ratu Pemilik Hati ini sudah pergi dan berlabuh di kerajaan lain. Aku tak permasalahkan kepergiannya, aku hanya merasa seperti manusia bodoh dan sempat berasumsi sejahat itukah cinta? Tapi bukankah cinta itu tak pernah salah? Jadi disini siapa/apa yang salah? Baru sekejap mata aku merasakan manisnya cinta... 

Seperti biasa, hanya dengan beberapa batang Marlboro Ice Blast (kali ini), sebotol Red Wine dan lantunan lagu Jason Mraz - "Beautiful Mess" saja untuk malam minggu ini. *kemudian menyelipkan sebatang rokok*  
Malam ini tak lebih tenang, mungkin karena terlintas akan masa lalu... Ya, Sang Ratu yang sudah pergi. Aku tak lagi menghujatnya, aku tak lagi menyalahkannya, aku tak lagi bersumpah serapah untuknya, aku tak lagi menangisi kepergiannya, kali ini aku kecewa. Luka ini masih menganga lebar namun membeku dalam ruang bersuhu dingin, bahkan lebih dingin daripada kulkas dirumah mamah. 

Minggu lalu aku masih mengharapkan dia untuk kembali lagi namun ketika beberapa hari lalu dia menyapa lewat chat hanya untuk mengetahui kabarku saja bahkan aku enggan untuk menjawab atau memulai obrolan yang hangat seperti layaknya seorang teman yang sudah lama tak berkabar. Karena egoku? Bukan. Karena bagiku itu tak penting lagi. Ada sesuatu yang harus dibayar mahal, sayang... Trust. Kepercayaan merupakan hal utama dalam kehidupanku dan aku sangat menyadari bahwa orang terdekat kita berpeluang besar untuk menyakiti kita dan aku rasa waktu sudah menjawab. 

Aku berhenti mencari jawaban dari kepergiannya, pada akhirnya. Aku berhenti menyimpan harapan tentang kedatangannya kemudian hari. Aku hanya "menelanjangi" diri sendiri kemudian melihat dengan seksama, yang aku lihat kali ini hanyalah kebohongan darinya dan aku membiarkan diriku dibohongi selama 1 tahun. Dia permainkan aku selama 1 tahun, lidah mampu berbohong bahkan untuk membalikkan kata-kata tapi hati sama sekali takkan bisa untuk dibohongi. Mungkin dia lupa hal itu. 

Sehina itukah aku dimatamu, Ca?
Aku hancur apa kamu peduli? 
Kenapa aku harus peduli ketika kamu kangen? 
Bukannya sejak setahun yang lalu aku udah ga penting lagi? 

Aku merasa diriku sangat bodoh bahkan sangat bodoh. Setelah kepergiannya bersama orang baru bahkan dia masih mencariku, masih sempat ucapkan sepatah kata rindu padaku, masih membelai lembut wajahku dan masih memberikan pelukan hangat untukku. Bodoh bukan? Membiarkan diri sendiri menjadi pilihan untuk seseorang yang diprioritaskan. 

Mulai detik ini manusia bodoh ini tak lagi membukakan sela untuknya, rasanya sudah lebih dari cukup untuk segala rasa semu yang dia berikan. Aku sudah memulai lembar baru yang idealnya terisi dengan cerita bahkan tokoh yang baru, bukan dengan tokoh yang sama.

Aku pikir aku rapuh tanpanya tapi setelah kepergiannya minggu lalu ke Pontianak seakan rasa sakitnya pun menemani dia disana. Aku jauh lebih baik, bahkan ketika beberapa detik lalu melihat iphoneku bergetar dan mengeluarkan notifikasi di social media dari dia pun aku baik-baik saja. Aku menikmati peranku menjadi manusia bebas layaknya sang Butterfly yang terbang kemanapun dia suka. Entah kenapa aku sangat mengagumi sosok Butterfly. Itulah aku saat ini.





















Selasa, 11 November 2014

Memulai dengan `akhir`

Hi Blog! 
Long time no see. 
Aku mulai merangkaikan kata-kataku (lagi) di blog ini. 

Sekarang aku lagi di kelasnya Pa Evo, dosen Strategy Marketing Management. Dosen yang satu ini mulai melunak ke mahasiswa angkatan XXX (kelas kami), dari tadi beliau asik banget nerangin Corporate Level Strategy tapi aku ga bergeming sama sekali gegara liat blog yang ga sengaja ke-click ini. Kuliah hari Selasa ini berempat, biasanya sih cuma bertiga (termasuk dosennya), aku, Tintus si Partner in Crime, Vero si Annoy Girl dan Ka Wellman. 

Ya.. ada di kelas ini adalah salah satu dari rangkaian rencana jangka panjang dalam hidupku. Bukan aku sok pintar, jujur aku bukan mahasiswa pintar kok, aku lanjutin S2 karena keluarga aku bukan keluarga kaya. Oke... Saat ini mama masih sanggup nanggung kebutuhan dan keinginan kedua anaknya, lalu kalau mama udah ga ada gimana? Kalau tabungan mama udah abis ditengah jalan, gimana? Kalau aku mati duluan sih bebas masalah, nah kalau dikasih panjang umur... Pasti harus berjuang dulu buat bisa lanjutin hidup kedepannya. 

Ade. Saat ini ade adalah mahasiswa disalah satu universitas yang cukup dikenal khalayak di Bandung, dengan perjuangan yang sangat menguras tenaga, emosi, waktu dan pikiran dalam ngebimbing ade sejak SMP sampe selesai SMA, yah.. inilah hasilnya. Ade ambil jurusan Teknik Informatika jenjang S1 karena ternyata minat dan bakatnya di komputer dan teknologi, belum lagi hobinya yang suka ngeGame. Cocok lah. Ade yang dulu tertutup, kikuk, anti-sosial, sekarang udah mulai bisa sharing sama aku mulai dari bahas game, lingkungan kuliah dia, aktivitas dia di kampus, nanya-nanya soal buku dan yang paling mengharukan itu adalah kemarin, waktu aku lagi telepon mama ternyata ade ijin sama mama buat ikut ngomong sama aku... "Nong, tadi pas gw balik kuliah lewat Unpad liat ada Jobfair mulai tgl 11-12 November 2014, cobain deh apply disana siapa tau aja ada yang nyangkut... Kan lumayan", dengan nada bicara yang datar. "Hmm... Oke", jawabku sambil tertegun dan sedikit haru. DAMN! Ade mulai peduli sama aku, seorang kakak yang `ga normal' lah. Rasanya kaya dapet temen baru yang saaaaaaaaaangat mampu dan rela ngertiin kita. 

Ya, itu intermezo dari tulisanku malam ini. Sebenarnya malam ini adalah kesempatanku untuk meluapkan cerita dan emosi yang terdalam. Setibanya di kosan, aku lanjutin buka laptop dan nerusin cerita yang belum kelar ini. Malam ini, di kamar ini, aku tenang. Diiringi lantunan lagu Jason Mraz - I Wont Give Up, bertemankan sebungkus LA Ice dan sebotol Red Wine tahun 2009 ini sangat luar biasa. Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat dari postingan cerita aku sebelumnya, tapi kali ini ketenangan, kebahagiaan, ketentraman yang aku rasain jauh lebih baik. 

Sejak Senin kemarin aku memutuskan untuk melakukan uzlah. Dalam bahasa arab uzlah berarti menghindari dari sifat-sifat dosa dan hal ini dilakukan oleh kalangan sufi. Persepsi aku tentang uzlah yaitu mengasingkan diri dari perbuatan yang bikin kita gagal move on dan mengisi waktu kita dengan perbuatan yang positif sehingga mampu memperkokoh hati, jiwa dan pikiran kita. 

Lalu, kenapa `gagal move on`? 
*menghela nafas sejenak lalu tersenyum memandangi laptop* 

Ya. Aku putus. 
*tersenyum dan terdiam* 

Kan aku udah bilang diawal, kondisi malam ini berbeda dengan malam ketika aku nulis postingan sebelum ini. Queen of my heart, Queen Raca, tepat di tanggal 12 Oktober 2014 lalu memutuskan untuk pergi berlalu meninggalkanku untuk orang lain. Hubungan kami lumayan lama, tgl 9 Februari 2012 lalu dia mengungkapkan semua perasaannya dan meminta untuk menjadi pasanganku, bertepatan dengan valentine`s day tgl 14 Februari 2012 kami meresmikan hubungan kami dan itu dijadikan sebagai tanggal sakral bagi kami. 

Tanggal 12 Oktober 2014 adalah hari Senin, kebetulan aku lagi cuti jadi seharian kami selesaikan masalah kami berdua. Semua perasaan berkecamuk dalam dada, seakan kepala ini akan pecah, dunia pun seolah tak berpihak padaku. Masih ingat dengan jelas, dia mengucapkan kalimat `putus` bertepatan dengan berkumandangnya adzan Isya. Senin itu waktu berasa berjalan sangan pelan, entah mungkin Tuhan kasih kesempatan untuk kami saling menghabiskan waktu `habis-habisan`. Hatiku bergetar ketika mendengar adzan, tubuhku lemas terkulai seakan tak ada tenaga lagi, kakiku lemah seperti tak mampu menopang tubuh lagi, kepalaku penuh tanya seakan ini adalah mimpi buruk yang paling buruk. 

Sayangnya ini semua adalah NYATA

Besok, tgl 12 November 2014 genap sebulan dia meninggalkanku. Dia hanya meninggalkan sepenggal kalimat yang diucapkan dengan jelas dan lantang didepan mukaku, "belajarlah berjalan meskipun kakimu patah sebelah". Aku pun masih terisak ketika menuliskan kalimat tersebut. Teganya dia melakukan ini semua padaku. Dia yang memeluk dan membelaiku dengan lembut mampu menusukkan belati tepat di jantungku dalam waktu yang bersamaan. Sayangnya, sampai dengan saat ini aku tidak `mati`. Aku tetap hidup, aku mampu berjalan jauh lebih baik dari minggu-minggu sebelumnya meskipun luka ini masih agak menganga. 

Sebagai seorang manusia yang diselimuti dengan `ke-aku-an`, masih ku pertanyakan, "salah apa aku sama kamu, ca? Pengorbananku sudah maksimal meskipun dimatamu masih tak seberapa namun inilah batas kemampuanku, inilah apa adanya aku. Bukankah sejak awal aku udah jelaskan bagaimana aku, kemampuanku, keterbatasanku untuk mulai mencintaimu dan saat itupun kamu menerima aku apa adanya, bukan? Aku bukan seorang Mer yang bisa selingkuhin kamu, aku bukan Sangeh yang posesif sama kamu dan aku bukan Iki si tukang pukul, apa salah aku Ica?" 

Dicintai untuk disakiti. Aku terluka, iya. Namun bukan ikhlas jika kita masih merasakan sakit. Aku sakit, iya. Namun rasa sayang dan cintaku lebih besar daripada rasa sakitku. Tapi saat ini aku mampu sendiri, aku mampu mengusir kesepianku, aku mampu bahagia dengan sederhana, aku mampu merasakan tenang yang lebih baik dan aku bahagia. Itulah aku saat ini. Meskipun Queen Raca telah pergi, Castleku harus tetap berdiri dengan megah dan kokoh. Jika secara langsung ataupun tidak dia berniat mempermainkan hatiku, maaf, dia salah orang. Aku tak berniat `memberontak`, seperti kata-kata yang selalu dia ucapkan padaku ketika menenangkan aku yang dalam keadaan disakiti oleh orang lain, "Tenang sayang, tanpa kamu minta, meskipun kamu sudah tak berdaya, Tuhan pasti hunuskan pedang ke musuh kamu, Dia ga akan biarkan kamu sendiri dan kalah". Saat ini kalimat itu pasti berbalik padanya.